Soal Call Center, PermataBank Rajanya

25 04 2007

Sejak tahun lalu PermataTel berada di posisi puncak Call Center Service Excellence Index. Tentu ini sebuah prestasi yang membanggakan. Namun, sudahkah Call Center PermataTel menjadi profit center?

Bagi industri perbankan, memiliki layanan call center sudah biasa. Hampir semua lembaga perbankan menyediakan layanan call center untuk para nasabahnya. Pasalnya, dengan call center lembaga perbankan dapat memberikan pelayanan yang lebih cepat, efektif, dan efisien. Bahkan, beberapa bank menjadikan call center sebagai salah satu layanan yang diprioritaskan.

Purjono

Selanjutnya artikel ini bisa Anda baca di Majalah MARKETING edisi Maret 2007.

Advertisements




Mengukur Keandalan Pengembang

25 04 2007

Oleh Purjono Agus Suhendro
 Alumnus Certified Property Analyst (CPA), ITPI, Jakarta

 

SETELAH terlepas dari krisis moneter tahun 1998, Indonesia dalam berbagai sektor seolah “terbang bebas”. Bisnis properti yang merupakan salah satu sektor riil menunjukkan “atraksi” yang menarik, bahkan paling bergairah dan menggairahkan jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Tingkat pasokan dan permintaan (supply and demand) sektor ini terus melaju searah.

Dengan demikian, sektor ini dipastikan turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dengan signifikan. 

 

Lihat saja di sekeliling kita, pembangunan pusat perbelanjaan dan apartemen saling susul-menyusul. Ada yang sudah selesai, ada yang separuh, dan ada yang baru memulai pembangunannya. Beberapa pengembang lama pun kembali melakukan ekspansi, melakukan pembenahan, atau meneruskan proyek-proyek mereka yang sempat terhenti ketika krisis. Ditambah dengan pengembang-pengembang baru yang mencoba peruntungannya di bisnis properti yang dinilai cukup menjanjikan ini.

 

Namun, dari sekian banyak pengembang yang ada, tentu hanya segelintir saja yang masuk dalam kategori andal. Yang dimaksud dengan andal di sini adalah dapat melakukan bisnisnya secara berkesinambungan (sustainable), kebal terhadap krisis, dan profitable.

 

Pengembang adalah perorangan atau organisasi berbentuk perusahaan yang memproduksi ruang atau bangunan untuk dijual atau disewakan kepada konsumen. Sebagai produsen, pengembang membutuhkan bahan baku dan melakukan proses produksi. Bahan baku utamanya adalah tanah dan keahlian (expertise), sedangkan prosesnya adalah pemilihan lokasi, pembelian tanah, desain master plan, financing, pembangunan (development), penjualan (selling), dan manajemen properti (property management) pasca-pembangunan. Walaupun proses tersebut tidak harus dilakukan dengan urutan yang sama, banyak penjualan dilakukan sebelum propertinya dibangun (pre-project selling).

 

Bahan Baku
Seperti diulas di atas, bahwa ada dua bahan baku utama pada bisnis pengembangan properti, yakni tanah dan keahlian (expertise). Pertama, tanah sebagai bahan baku berkaitan dengan lokasi. Pengembang yang bijak akan memilih lokasi yang strategis dan selalu menyiapkan stok-stok lahan yang akan dikembangkan. Harus dibedakan antara pengembang dan spekulan tanah yang hanya mengharapkan apresiasi tanah, tanpa berniat melakukan pengembangan lahan tersebut.

 

Kedua, keahlian (expertise). Hal ini menyangkut manajemen perusahaan (corporate management). Manajemen perusahaan pengembang harus memiliki kemampuan adaptif untuk mengantisipasi pasar properti yang terus mengalami perubahan. Harus ada bagian yang berkonsentrasi dalam pemikiran strategis dan yang melakukan kegiatan operasional.

 

Pada bagian strategis, harus mempunyai orang-orang yang generalis spesialis, yaitu memiliki kemampuan analisa, mampu membuat konsep, dan mengetahui seluruh proses produksi dengan segala permasalahan, serta solusinya. Bagian inilah yang menentukan arah perusahaan.

 

Output dari bagian strategis ini, antara lain analisa pasar dan persaingannya, analisa kelayakan investasi, monitoring proyek, serta  pengembangan bisnis. Sedangkan pada bagian produksi, merupakan kumpulan dari orang-orang dengan spesialisasinya masing-masing, seperti teknik, keuangan, marketing, dan lain-lain.

Proses Produksi atau Pengembangan
Pada proses produksi atau pengembangan, yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1.      Pada saat pemilihan lokasi dan pembelian tanah, pengembang harus memilih lokasi yang strategis dengan bentuk tapak yang baik. Selain itu, harus dilakukan studi pasar dan studi kelayakan dengan asumsi yang wajar. Dari sisi hukum, tanah harus bebas sengketa (free and clear).

2.      Desain master plan harus dilakukan secara matang, mulai dari pemilihan nama, desain bangunan (bentuk dan bahan bangunan yang dipakai), infrastruktur, dan kelengkapan fasilitas.

3.      Financing adalah proses pencarian dana, yaitu melalui pinjaman bank, atau pun dana sendiri. Rasio pinjaman yang wajar adalah 70:30 (70% pinjaman dan 30% modal sendiri).

4.      Pembangunan propertinya dilakukan tepat waktu, tidak terjadi penundaan yang berarti.

5.      Penjualan dilakukan dengan strategi yang baik, dengan memerhatikan Segmentation, Targeting, dan Positioning, serta taktik 4P, yaitu Product, Price, Promotion, dan Place.

6.      Manajemen properti pasca-pembangunan diserahkan pada ahlinya, seperti memakai konsultan spesialis maupun in-house dengan anggota tim yang ahli dan bertanggung jawab.

 

Proses produksi ini dapat dilihat dari proyek-proyek yang sedang berjalan dengan cara melakukan survei pada proyek-proyek yang sedang dikerjakan pengembang tersebut. Dan, mengenai manajemen propertinya, dapat dilihat pada proyek komersial yang telah selesai dibangun dan dikelola oleh pengembang, seperti apartemen, trade center, maupun shopping center.

 

Memang, tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini. Begitu pula dengan pengembang. Tidak ada yang benar-benar memenuhi kriteria di atas. Tetapi, setidaknya dapat dijadikan parameter untuk mengukur keandalan pengembang tersebut.